Sudah Masuk DTKS Tapi Tak Kebagian Bansos PPKM? Waduh Ternyata Iniloh Penyebabnya

Rinda Suherlina - Minggu, 1 Agustus 2021, 18:30 WIB

Era Digital Telah Menciptakan Budaya Baru.

(Bandung, 9/10/21) Era digital telah mengubah kebiasaan lama masyarakat. Sebagian menjadi manfaat, sebagian mendatangkan kebingungan, kegagapan, atau malah kekacauan. Untuk itu, para pakar komunikasi memiliki tanggung jawab agar kebiasaan baru itu dapat dipelajari dan menjadi dasar pengembangan budaya dan peradaban baru yang baik. 

Demikian catatan kunci dari Ketua Asosiasi Pendidikan Ilmu Komunikasi (Aspikom) korwil Jawa Barat, Dr. Ani Yuningsih dalam diskusi virtual Dewan Pakar Aspikom Jabar seri ke-3, Sabtu (09/10/21) di Bandung. Diskusi yang mengusung tema Peran Media Digital dalam Transformasi Budaya, menghadirkan yaitu Prof. Asep S Muhtadi, Prof. Atwar Bajari, Dr. Septiawan Santana, dan Indy Rahmawati.

Dr. Ani Yuningsih menambahkan, disrupsi teknologi informasi saat ini memunculkan budaya digital dalam berbagai bidang. Informasi pun beredar makin cepat dan makin massif. Untuk itu perlu sumbangan pikiran dari pakar komunikasi agar praktik-praktik aktifitas digital tetap beradab dan etis. Menurut Ani, sumbangan pemikiran itu makin perlu mengingat target bangsa Indonesia yang ingin makin cakap digital pada Tahun 2045. 

Sejalan dengan hal itu, Gurubesar UIN SGD Bandung, Prof. Asep S Muhtadi meminta para pakar komunikasi menciptakan teori baru dalam budaya digital agar praktiknya selalu etis. Prof. Muhtadi menyatakan, khusus pada praktik komunikasi dalam setiap agama, prinsipnya, apapun medianya, komunikasi tidak boleh berisi kebohongan. Dalam konteks interpersonal kritik untuk mengingatkan seseorang yang berbuat salah, juga ada panduannya, yaitu lakukan dengan cara yang baik, tidak menyakiti hati orang yg diingatkan. Selain itu, menurutnya praktik komunikasi di Indonesia juga harus dipandang dalam konteks Indonesia sehingga beberapa teori yang ada menjadi tidak relevan.

Sementara itu, Guru Besar UNPAD Prof. Atwar Bajari, mengatakan, kampus harus berubah. Mengutip ramalan Drucker, Atwar menyebut, jika para pengelola pendidikan tinggi tidak mau mengubah cara pikir dan cara kerja, maka perguruan tinggi dalam 3 dekade ke depan akan hilang, tidak dibutuhkan dan tinggal artefak. Masyarakat sekarang tidak membutuhkan kelas untuk mendengar pidato guru yang materinya tidak menyentuh persoalan sehari-hari dan tidak mampu memberdayakan anak didik untuk mengembangKan potensi dirinya.

Editor: Rinda Suherlina

Sumber:

tags
Artikel Rekomendasi