Pengamat Timur Tengah: Ini Penyebab Taliban Berkuasa Tanpa Perlawanan

Siti Resa Mutoharoh - Selasa, 17 Agustus 2021, 12:41 WIB

Dosen prodi Hubungan Dina YuliantiPengamat Timur Tengah: Ini Penyebab Taliban Berkuasa Tanpa Perlawanan/Dok. Pribadi

FIXINDONESIA.COM - Pengamat Timur Tengah yang juga Dosen Prodi Hubungan Internasional Universitas Padjadjaran Dina Yulianti menyebutkan, jika melihat pemberitaan baik di media nasional dan internasional, proses pengambilalihan kota demi kota di Afghanistan berjalan cepat dan nyaris tidak ada perlawanan. Bahkan ibu kota pun (Kabul) jatuh ke tangan Taliban nyaris tanpa perlawanan. 

“Presiden Afghanistan pergi begitu saja, padahal sudah berjanji akan terus berjuang melawan Taliban. Ada dua kemungkinan, pertama Taliban punya kekuatan yang besar. Namun, ini kontradiktif dengan informasi bahwa jumlah pasukan Taliban cuma enam puluh ribuan. Sementara pasukan Afghanistan yang dipersenjatai dan dilatih AS selama ini mencapai tiga ratus ribuan,” kata Dina kepada FIXINDONESIA.COM, Selasa 17 Agustus 2021. 

Menurutnya, kemungkinan kedua, Taliban mendapatkan dukungan dari sebagian warga Afghanistan sehingga mereka begitu saja menyerahkan kendali kota kepada Taliban.

Pasalnya, untuk sebagian warga sipil, opsi mereka ada dua, pertama, AS tetap ada di Afghanistan dan setiap saat mereka terancam oleh bom-bom yang dijatuhkan AS dan menyebabkan kematian anggota keluarga mereka.  Atau kedua, menerima kekuasaan Taliban, tanpa kehadiran AS.

Baca juga: Afghanistan: Mungkinkah Berdamai dengan Taliban?

Baca juga: Indonesia vs Afghanistan: Pelatih Shin Tae-yong Beberkan Taktik Timnas Menangkan Pertandingan

“Saya lebih melihat fenomena ini sebagai bukti kegagalan proyek perang AS. Sudah 20 tahun AS menduduki Afghanistan dengan alasan akan membantu bangsa Afghanistan untuk memiliki pemerintahan dan militer yang kuat dan demokratis. Namun yang terjadi adalah AS terus-menerus melakukan pembunuhan kepada warga sipil dengan alasan mengejar teroris,” jelasnya.

Amerika Serikat mengaku sudah mengeluarkan dana 2,4 Triliun USD, lanjut Dina, tapi yang menikmati adalah military industrial complex.

Editor: Siti Resa Mutoharoh

Sumber:

tags
Artikel Rekomendasi