Modal Popularitas vs Tiket Partai

Firda Rachmawati - Jumat, 4 Juni 2021, 15:26 WIB

Sidik Nur Toha (Peneliti Indonesian Presidential Studies)Sidik Nur Toha (Peneliti Indonesian Presidential Studies)

Oleh:
Sidik Nur Toha
Peneliti Indonesian Presidential Studies

FIXINDONESIA.COM - Pemilihan Presiden 2024 masih tiga tahun mendatang. Namun, bursa kandidat pasangan calon presiden sudah mulai ramai dibicarakan. Elit partai juga sudah melirik kandidat yang berpotensi menang 2024 mendatang. PPP misalnya mengajukan nama Khofifah yang masih menjabat gubernur Jatim sebagai wakil presiden.

Nama ketua dan elit parpol sudah mulai digadang-gadang untuk maju dalam gelaran pilpres mendatang. Di sisi lain, tokoh-tokoh kepala daerah juga memiliki kans yang besar untuk maju dalam kontestasi mendatang. Popularitas kepala daerah dan elit parpol akan menjadi kontestasi yang menarik menuju pemilihan umum 2024. Pola terpilihnya Presiden Jokowi pada 2014, sebelumnya adalah gubernur DKI Jakarta, coba dibaca kembali oleh beberapa kalangan parpol dan kandidat kepala daerah. Bahwa model Jokowi pada pilpres 2014 mungkin terjadi lagi atau tidak. 

Meskipun memiliki popularitas yang tinggi, kandidat yang tidak didukung oleh partai politik akan kesulitan untuk maju dalam kontestasi. Dengan batas ambang pencalonan presiden (presidential threshold) 20%, tiket dari partai politik dan atau koalisi partai politik akan sangat menentukan dalam perebutan kursi kepresidenan mendatang.

Baca juga: Pemkot Bandung Bakal Perbanyak Jalur Sepeda

Setidaknya ada dua hal penting dalam hal ini, pertama adalah sosok calon kandidat dengan popularitas yang tinggi, yang kedua adalah dinamika internal parpol dan koalisi parpol yang akan memberikan tiket kepada kandidat yang mereka usung. 

Kepala Daerah vis a vis Elit Partai

Popularitas adalah modal awal untuk mencapai kemenangan dalam kontestasi pemilihan umum. Dari data survei Indonesian Presidential Studies (IPS) April 2021 menunjukan ada setidaknya tujuh kandidat calon presiden kuat dari tigapuluh nama. Mulai dari yang terkuat adalah Prabowo Subianto (25,4%), Anies Baswedan (14,7%), Ganjar Pranowo (14,4%), Sandiaga Uno (6,4%), Agus Harimurti Yudhoyono atau AHY (4,8%), Ridwan Kamil (4,7%), Khofifah Indar Parawansa (3,4%). Nama elit partai seperti Puan Maharani (0,2%), Muhaimin Iskandar (1,5%), Airlangga Hartanto (1,6%) masih kurang dikenal oleh masyarakat Indonesia. Kandidat kepala daerah yang cemerlang seperti Tri Rismaharini dan Nurdin Abdullah juga masih memiliki elektabilitas yang rendah. 

Editor: Firda Rachmawati

Sumber:

tags
Artikel Rekomendasi