Melindungi Hak Wanita dan Menggerus Patriarki

Agus Satia Negara | Ajeng Dwita Ayuningtyas - Kamis, 22 April 2021, 8:58 WIB

KartiniKartini/Arsip Nasional

FIXIDONESIA.COM - Hari Kartini sangat erat kaitannya dengan peran wanita. Akan tetapi, wanita seringkali dianggap sebagai makhluk yang lemah.

Citra seorang wanita didefinisikan sebagai makhluk yang subjektif, lemah fisik dan intelektualnya, mudah menyerah, emosional, pasif, mudah terpengaruh, dan pandangan negatif lainnya. 

Di sisi lain, pria digambarkan sebagai makhluk yang objektif, memiliki fisik yang kuat, aktif, agresif, suka berpetualang, mandiri, rasional, dan logis.

Perbedaan fisik antara wanita dan pria berpengaruh pada citra dan kepribadiannya.

Wanita yang dianggap sebagai makhluk emosional dan memiliki suasana hati yang tidak stabil didukung karena perubahan hormon yang terjadi padanya ketika masa haid. 

Baca juga: Mau Investasi Saham? Simak Cara Kerja Pasar Saham

Sayangnya, perubahan hormon ini juga seringkali menjadi alasan timbulnya stereotype negatif. Sebagian besar orang menganggap kondisi tersebut sebagai kelemahan wanita dan tidak pantas menjadikannya setara dengan pria dalam bidang politik, ekonomi, kemiliteran, dan lain sebagainya.

Pandangan-pandangan negatif tersebut seakan memberi batas gerak bagi wanita.

Lebih dari itu, masih ada pandangan-pandangan yang menyimpulkan wanita sebagai makhluk yang tidak penting (subordinate), makhluk yang tidak sempurna (the second class), selalu dipinggirkan (marginalization), dieksploitasi, dan hanya diposisikan untuk mengurus rumah tangga (domestication/housewivezation).

Budaya yang berkembang menuntut seorang wanita terus tunduk pada pria. Sejak kecil, anak perempuan harus patuh pada ayahnya. 

Hal ini memang merupakan sebuah kewajiban. Akan tetapi, yang disayangkan adalah ketika aturan yang harus anak perempuan ikuti sangat menentang haknya. Adik perempuan pun harus patuh pada kakak laki-lakinya. Apakah saat sudah berkeluarga hal tersebut sama berlakunya dan menempatkan wanita hanya di dapur saja?

Baca juga: 6 Tempat Paling Beracun di Bumi, Salah Satunya Danau yang Ada di Rusia

Budaya semacam ini disebut patriarki. Budaya ini juga menimbulkan dampak negatif lainnya terhadap wanita, seperti kekerasan fisik dan kekerasan seksual. Sangat disayangkan apabila budaya ini masih dianggap lazim hidup di Indonesia. 

Feminitas dan maskulinitas merupakan produk budaya yang dinamis, bisa berubah seiring berkembangnya zaman dan menyesuaikan tempatnya. Maka, seharusnya budaya patriarki dapat diminimalisasi.

Pada masa kini, banyak sekali tokoh wanita yang berprestasi dan mampu menunjukkan kemampuannya setara dengan pria, bahkan melampaui jabatan pria. Kesetaraan ini perlu digaungkan sebagai bentuk perlindungan terhadap hak wanita.

Misalnya, Presiden Republik Indonesia keempat merupakan seorang wanita, yaitu Megawati Soekarno Putri. Mantan Menteri Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia pun seorang wanita, Susi Pudjiastuti. 

Menteri Sosial Republik Indonesia saat ini juga seorang wanita, Tri Rismaharini. Wanita juga telah mengisi beberapa keprofesian yang sebelumnya didominasi oleh laki-laki, seperti pada bidang kemiliteran. 

Contoh yang lebih sederhana, saat ini banyak wanita yang berhasil menempuh pendidikan tinggi. Berdasarkan hal tersebut, sebenarnya wanita memiliki kemampuan yang setara dengan laki-laki. ***

Editor: Agus Satia Negara

Sumber:

tags
Artikel Rekomendasi
terkait