Ajaran Socrates Tentang Baik dan Adil

Agus Satia Negara - Senin, 5 April 2021, 9:46 WIB

M.Z. Al-Faqih  (Dosen Universitas Padjadjaran, Pembaca buku dan Penikmat Filsafat)M.Z. Al-Faqih (Dosen Universitas Padjadjaran, Pembaca buku dan Penikmat Filsafat)/Dokumentasi Pribadi

M.Z. Al-Faqih (Dosen Universitas Padjadjaran, Pembaca Buku dan Penikmat Filsafat)

FIXINDONESIA.COM - Socrates adalah pemikir besar sepanjang masa. Ia adalah nabi bagi masyarakat Athena. Ia tak pernah lelah mendidik warga Athena dan membimbingnya menuju kebaikan.

Ia selalu mengajak warga Athena meneliti hidupnya. Ia juga gemar berdikusi dengan warga Athena dan mengajak mereka berpikir filosofis agar hidup yang dijalani semakin bermakna.

Dia bukan tipe pemikir dan filsuf yang mendagangkan ilmunya demi uang sebagaimana yang dilakukan oknum kaum shopis di masanya. Dia adalah manusia idealis yang dikenang sepanjang masa.

Baca juga: Densus 88 Amankan 60 Terduga Teroris Sebagai Buntut Bom Bunuh Diri di Gereja Katedral Makassar

Socrates di masa hidupnya tidak meninggalkan manuscript yang dapat dibaca dan diteliti oleh generasi setelahnya. Beruntung ia memiliki seorang murid yang juga pemikir besar dunia. Ya, Plato adalah muridnya. Melalui jasa Plato, masyarakat dunia mengenal sosok Socrates.

Plato telah merekam kisah hidupnya dalam karya tetraloginya. Melalui karya-karya Plato, masyarakat dunia mengenal sosok Socrates dan mengetahui ajaran-ajarannya, salah satu ajaran Socrates yang penting dipelajari adalah ajarannya tentang “saleh” (baik) dan “adil”.

Dalam karya Plato yang berjudul Euthyphro, Socrates dengan baik menerangkan makna “saleh” (baik) dan “adil”.  Menurut Socrates sesuatu yang “saleh” (baik) sudah ada dalam hakikat dirinya tanpa perlu pengakuan dari apapun dan siapapun di luar dirinya. Sesuatu yang “saleh” (baik) tidak terikat dengan hal apapun di luar dirinya. Hal yang sama terhadap sesuatu yang disebut “adil”.

Sesuatu disebut “adil” karena memang sesuatu itu dalam dirinya disebut adil. “Saleh”  (baik) dan “Adil” keberadaannya bersifat objektif. “Saleh” (baik) dan “Adil” tidak berkaitan dengan kepentingan subyektif.

Baca juga: Jadwal SIM Keliling Kota Sumedang Hari Ini, Senin 5 April 2021

Alat yang digunakan untuk menilai sesuatu itu “saleh” (baik) dan “adil” adalah daimonion (suara hati) yang terdapat di dalam diri masing-masing individu. Menurut Socrates, daimonion merupakan jelmaan suara Tuhan.

Daimonion akan memberitahukan kepada setiap individu tentang yang “saleh” (baik) dan “adil”. Di dalam kitab Euthyphro karya Plato, Socrates memberikan contoh yang akan memahamkan siapapun tentang “saleh” (baik) dan “adil”.

Pernah terjadi di masa Socrates hidup, sahabat Socrates yang bernama Euthyfro mendakwa ayah kandungnya ke hadapan pengadilan. Masyarakat Athena gempar. Seorang anak mendakwa dan menuntut ayah kandungnya.

Euthyphro mendakwa ayah kandungnya karena telah lalai dan menjadi penyebab kematian seorang pelayan. Ayahnya secara tidak sengaja telah membunuh pelayannya.

Hal ini bermula ketika pelayan ayahnya yang sedang mabuk bertengkar dengan salah seorang pekerja di rumah ayahnya. Pelayan yang mabuk itu membunuh pekerja tersebut.

Baca juga: Bentrok di MotoGP Doha, Joan Mir dan Jack Miller Saling Senggol

Mengetahui hal tersebut, ayah Euthyphro kemudian mengikat kaki dan tangan sang pembunuh dan membuangnya ke selokan. Setelah itu, dengan segera ayah Euthyphro mengutus pegawainya yang lain pergi ke kota untuk menemui penguasa keagamaan.

Kepentingannya untuk menanyakan perihal hukumnya dan tindakan yang harus dilakukan ayahnya terhadap sang pembunuh. Kepergian sang pegawai memakan waktu yang cukup lama.

Pada saat menunggu kedatangan pegawai yang akan membawa kabar dari penguasa keagamaan, ayah Euthyphro mengabaikan keberadaan sang pembunuh. Sang Pembunuh dibiarkan kelaparan dan kedinginan hingga akhirnya meninggal. 

Menyaksikan peristiwa tersebut, Euthyphro berdasarkan daimonionnya menilai bahwa ayahnya telah berlaku tidak adil terhadap sang pembunuh. Euthyphro memiliki kewajiban moral melawan ketidakadilan tersebut. Bagi Euthyphro sesuatu yang adil harus dinyatakan dan ditampakkan.

Siapapun yang bertindak tidak adil harus dihukum. Walaupun pelaku ketidakadilan tersebut adalah bagian dari keluarga, yaitu ayah kandungnya. Seseorang pada saat menegakan keadilan berdasarkan daimonion yang ada dalam dirinya akan menghadapi tantangan pada saat berhadapan dengan kepentingan subyektif. Hal ini juga dialami Euthyphro.

Baca jugaKemensos Cairkan Bansos Sepanjang 2021, Periksa Nama Anda di Laman Ini Sebagai Penerima Bantuan

Perbuatannya mendakwa ayah kandungnya oleh masyarakat Athena dinilai kurang baik. Bagi masyarakat Athena tidaklah saleh (baik) seorang anak menuntut ayahnya ke hadapan pengadilan. Menurut standar moral yang berlaku di masyarakat Athena, hal itu tidak benar.

Namun karena “Saleh”  (baik) dan “Adil” bersifat objektif bukan subyektif maka  Euthyphro tetap berpegang pada daimonionnya dan menegakan keadilan tersebut. Inilah ajaran berharga Socrates, bahwa “saleh” (baik) dan “adil” adalah objektif bukan subyektif dan tidak terikat pada sesuatu di luar dirinya. ***

 

Editor: Agus Satia Negara

Sumber:

tags
Artikel Rekomendasi

terpopuler
sorot
terkait