Afghanistan: Mungkinkah Berdamai dengan Taliban?

Siti Resa Mutoharoh - Jumat, 13 Agustus 2021, 10:51 WIB

AfganistanAfghanistan: Mungkinkah Berdamai dengan Taliban?/PIXABAY

OLEH: 
Dina Yulianti (Dosen Prodi Hubungan Internasional Unpad)

FIXINDONESIA.COM - Kondisi di Afghanistan semakin genting pascapenarikan tentara Amerika Serikat. Utusan Khusus Sekjen PBB untuk Afghanistan, Deborah Lyons, melaporkan bahwa situasi keamanan memburuk dan telah terjadi kondisi darurat kemanusiaan. Menurut Lyons, “Afghanistan sekarang berada pada titik balik yang berbahaya. Ada dua kemungkinan di depan, negosiasi perdamaian yang sejati atau justru krisis yang tragis” (UNAMA, 2021).

Konflik dan kekerasan terutama terjadi karena Taliban mulai bergerak dari kota ke kota untuk mengambil alih kekuasaan dari tangan pemerintahan Afghanistan. Media massa memberitakan bahwa upaya pengambilalihan kekuasaan itu dilakukan dengan kekerasan sehingga selain menjatuhkan banyak korban jiwa, juga memicu pengungsian besar-besaran warga dari berbagai kota ke arah Kabul.

Laporan dari Misi Bantuan PBB di Afghanistan (UNAMA) menyebutkan, dalam periode 1 Januari- 31 Juni, sebanyak 1.659 warga sipil tewas dan 3.524 lainnya terluka. Sebanyak 38% dari jumlah korban adalah akibat dari penggunaan bahan peledak IED oleh Taliban. Sebanyak 8% korban akibat serangan udara yang dilakukan militer Afghanistan (yang dilakukan untuk melawan Taliban). Korban lainnya adalah akibat pertempuran (saling-serang secara langsung) atau pembunuhan terencana yang hampir semuanya dilakukan Taliban.

Baca juga: Kisah Amerika yang Angkat Kaki dari “Kuburan Imperium”

Perkembangan ini sangat kontras dengan optimisme yang disampaikan banyak pihak setelah ditandatanganinya Perjanjian AS-Taliban di Doha pada Februari 2020. Indonesia termasuk negara yang hadir menyaksikan penandatanganan perjanjian damai tersebut. Menlu Retno mengatakan bahwa kesepakatan damai ini adalah langkah pertama dalam proses perdamaian di Afghanistan dan merupakan “perkembangan yang sangat menggembirakan yang telah kita tunggu-tunggu untuk waktu yang lama” (Jakarta Post, 2020). Salah satu butir dalam perjanjian itu adalah Taliban bersedia untuk melakukan negosiasi damai dengan pemerintah Afghanistan.

Perjanjian damai AS-Taliban adalah hasil dari proses panjang bergesernya pendekatan militeristik yang dilakukan AS ke arah resolusi konflik yang mengakomodasi semua pihak yang terlibat. Pada tahun 2001, AS menginvasi Afghanistan dengan alasan untuk mencari Osama bin Laden (tertuduh pelaku pengeboman 911) dan menggulingkan rezim Taliban yang memberikan perlindungan kepada Bin Laden.

Dalam waktu singkat Taliban terguling dan AS menginisiasi Konperensi Bonn untuk merundingkan pemerintahan transisi. Taliban sama sekali tidak dilibatkan dalam konperensi ini dan terus dikejar oleh militer AS dalam operasi ‘perang melawan terorisme’. Warga sipil pun terjebak di tengah konflik akibat serangan udara dari militer AS dan NATO, maupun serangan oleh Taliban. Selama 20 tahun (2001-2021) pendudukan AS di Afghanistan, korban sipil mencapai sekitar 100.000 jiwa.

Editor: Siti Resa Mutoharoh

Sumber:

tags
Artikel Rekomendasi